Eskalasi konflik di berbagai lini perang AS-Israel terhadap Iran mendorong harga minyak mentah global melonjak ke titik tertinggi dalam hampir dua minggu terakhir.
Minyak mentah jenis Brent — patokan harga energi global — naik lebih dari 3 persen pada perdagangan Senin pagi dan menembus angka 116 dolar AS per barel, atau setara dengan Rp 1,9 juta per barel pada kurs saat ini. Posisi ini merupakan yang tertinggi sejak 19 Maret 2026, ketika harga sempat menyentuh 119 dolar AS (sekitar Rp 1,95 juta) per barel.
Ketegangan Militer Picu Gelombang Baru Kenaikan Harga Energi
Lonjakan terbaru ini dipicu oleh pernyataan Iran yang menyatakan kesiapannya menghadapi kemungkinan invasi darat oleh pasukan Amerika Serikat. Ketua parlemen Iran bahkan mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa Tehran siap menunggu kedatangan pasukan AS untuk menghadapi mereka secara langsung, sekaligus mengancam akan memberikan konsekuensi bagi negara-negara sekutu di kawasan yang dianggap memfasilitasi operasi militer tersebut.
Pernyataan itu muncul di tengah memburuknya situasi lapangan selama akhir pekan: kelompok Houthi yang didukung Iran untuk pertama kalinya dalam konflik ini meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, sementara Israel memperluas operasi daratnya di Lebanon selatan.
Selat Hormuz Tersumbat: Seperlima Pasokan Energi Dunia Terganggu
Inti dari krisis energi ini terletak pada pemblokadean efektif Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel. Selat yang menjadi jalur transit sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan LNG global itu kini nyaris tidak dapat dilalui secara normal.
Sejak konflik dimulai, harga minyak dunia telah melonjak hampir 60 persen — sebuah kenaikan yang langsung ditransmisikan ke harga bahan bakar di berbagai negara dan memaksa sejumlah pemerintah mengambil langkah darurat untuk menjaga ketahanan energi domestik mereka.
Para analis memperingatkan bahwa tanpa pemulihan arus pelayaran di Selat Hormuz ke kondisi normal, tekanan harga akan terus berlanjut tanpa ada pijakan yang jelas untuk berbalik turun.
Pasar Baru Mulai Merasakan Dampak Fisik
Greg Newman, CEO Onyx Capital Group — sebuah perusahaan yang bermula sebagai rumah perdagangan derivatif minyak — menyampaikan pandangannya kepada Al Jazeera bahwa pasar energi baru berada di tahap awal dalam merasakan dampak penuh dari guncangan ini.
Ia menjelaskan bahwa pergerakan minyak fisik di seluruh dunia berlangsung dalam siklus muat yang memerlukan waktu berminggu-minggu. Dalam kasus ini, kawasan Eropa baru benar-benar mulai merasakan efek nyata dari kelangkaan pasokan setelah sekitar tiga minggu sejak gangguan dimulai.
Newman memproyeksikan bahwa harga Brent akan terus bergerak naik secara bertahap menuju 120 dolar AS per barel — sekitar Rp 1,97 juta — dan berpotensi melampaui angka tersebut.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa skala gangguan yang terjadi saat ini belum sepenuhnya tercermin dalam kalkulasi pasar makro global.
“Tidak ada satu pun pelaku pasar yang pernah menyaksikan pemadaman pasokan seperti yang kita alami sekarang. Premi minyak fisik berada di level tertinggi sepanjang sejarah. Masih ada kesan bahwa dunia makro belum cukup serius menyikapi ini — padahal kondisinya lebih buruk dari apa pun yang pernah terjadi sebelumnya. Kenyataannya akan tercermin dalam angka-angka ekonomi dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Newman.
Implikasi bagi Pelaku Bisnis dan Rantai Pasok Indonesia
Bagi perusahaan-perusahaan Indonesia — terutama yang bergerak di sektor logistik, distribusi energi, manufaktur berbasis impor bahan baku, serta sektor pertanian dan pangan yang bergantung pada bahan bakar untuk transportasi dan produksi — kenaikan harga minyak ini membawa implikasi konkret:
- Biaya operasional transportasi dan logistik akan terus tertekan ke atas selama Selat Hormuz belum pulih
- Harga bahan bakar industri (solar, avtur, bahan bakar kapal) berpotensi menyesuaikan ke atas dalam waktu dekat
- Rantai pasok impor yang menggunakan jalur pengiriman memutar via Tanjung Harapan akan menanggung waktu transit lebih panjang dan biaya pengiriman lebih tinggi
- Inflasi harga barang akan mulai terasa lebih luas di tingkat konsumen akhir dalam beberapa minggu ke depan, sejalan dengan prediksi Newman tentang siklus transmisi dampak fisik
Dalam konteks perencanaan bisnis jangka pendek, memantau perkembangan diplomatik dan militer di kawasan Asia Barat bukan lagi sekadar kepentingan desk riset — ini adalah bagian dari manajemen risiko operasional yang langsung mempengaruhi struktur biaya perusahaan.
Sumber: Al Jazeera. Konversi kurs: 1 USD ≈ Rp 16.400 (estimasi Maret 2026).

