Perang Teluk Babak Baru: Mengapa Fase Ini Paling Berbahaya dan Paling Menyesatkan

Ada satu pertanyaan yang terus menggantung di ruang-ruang analisis geopolitik dunia sejak 28 Februari 2026: mengapa Iran belum runtuh?

Sejak jam pertama serangan, Washington sudah memoles narasi yang rapi — operasi kilat, rezim Tehran akan kolaps dari dalam, rakyat Iran akan menyambut “kebebasan” yang dijanjikan Trump. Satu bulan berlalu. Lebih dari 1.900 orang tewas di Iran. Ibu kota mereka dibombardir hampir setiap hari. Pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, dibunuh di hari pertama. Dan Iran? Masih berdiri. Masih menembak. Masih menutup Selat Hormuz.

Analisis | Satu bulan setelah AS dan Israel menyerang Iran, kenyataan di lapangan jauh lebih rumit dari narasi kemenangan yang dikampanyekan Washington. Ini bukan perang yang berjalan sesuai rencana.

Inilah mengapa fase ini disebut sebagai yang paling menipu dalam keseluruhan saga konflik Teluk — bukan karena tidak ada yang menang, tapi karena hampir semua pihak sedang menipu diri sendiri tentang apa arti “menang” dalam perang ini.


Pekan Pertama: Kejutan yang Tidak Mengejutkan Siapapun

Serangan pembuka AS dan Israel pada 28 Februari dirancang untuk mengirim pesan yang tak terbantahkan. Pentagon menyebutnya dua kali lebih dahsyat dari kampanye shock and awe yang membuka invasi Irak 2003. Khamenei tewas. Jenderal-jenderal top Iran ikut gugur. Beberapa komandan IRGC lenyap dalam hitungan jam.

Tapi Iran tidak menunggu duka cita selesai.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, ratusan rudal dan drone Iran sudah melayang menuju Israel dan aset-aset militer AS di seluruh kawasan Teluk. Lebih krusial lagi: Selat Hormuz — urat nadi energi dunia yang menanggung sekitar 20 persen pasokan minyak global — berhasil diblokade Tehran secara efektif.

Itu adalah gerakan yang seharusnya sudah diperhitungkan Washington. Tapi kenyataannya, militer AS mengakui bahwa mereka belum siap mengawal kapal tanker melewati selat tersebut. Enam tentara AS tewas di Kuwait. Tiga jet tempur AS ditembak jatuh — oleh tembakan kawan sendiri. Dan Hizbullah, yang semestinya sudah dilemahkan, langsung merangsek masuk dari Lebanon.

Di ujung pekan pertama: harga minyak sudah menembus 90 dolar per barel — naik dari sekitar 70 dolar sebelum perang. Dalam kurs Rupiah saat ini, itu setara dengan lonjakan dari sekitar Rp 1,15 juta menjadi Rp 1,48 juta per barel.


Pekan Kedua: Ilusi Operasi Singkat Mulai Retak

Ketika perang memasuki minggu kedua, satu hal menjadi gamblang: ini bukan operasi kilat. Iran tidak kolaps. Tidak ada kudeta dari dalam. Tidak ada gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang diharapkan terjadi.

Justru sebaliknya — Tehran memilih Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi yang baru saja dibunuh, sebagai penggantinya. Sebuah sinyal defiansi yang terang-terangan: kalian bunuh pemimpin kami, kami pilih darahnya sendiri.

Di lapangan, Iran kian memperketat cengkramannya di Selat Hormuz. Israel mulai menghantam fasilitas penyimpanan minyak di Tehran, menghasilkan hujan hitam di atas kota berpenduduk sembilan juta jiwa. Harga minyak sempat melampaui 110 dolar per barel — sekitar Rp 1,8 juta — sebelum sedikit mereda setelah IEA mengumumkan pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel.

Trump, dengan nada yang hampir terdengar defensif, mengatakan perang ini justru menguntungkan Amerika karena AS adalah produsen minyak besar. Komentar yang terasa hampa bagi konsumen Amerika yang mulai merasakan harga bahan bakar menggigit.


Pekan Ketiga: Eskalasi Berbahaya ke Infrastruktur Energi

Jika dua minggu pertama adalah pertempuran militer, minggu ketiga adalah perang energi terbuka — dan ini adalah babak yang paling mengubah dinamika kawasan.

Israel mengeksekusi dua target besar: Ali Larijani, kepala keamanan Iran, dan kepala paramiliter Basij Gholamreza Soleimani. Lalu mereka melangkah jauh lebih jauh dari yang siapapun diantisipasi — menghantam ladang gas raksasa South Pars milik Iran, satu-satunya aset energi terbesar yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Tehran.

Iran membalas dengan serangan ke fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar, memangkas 17 persen kapasitas ekspor LNG negara Teluk itu, dengan estimasi kerugian tahunan mencapai 20 miliar dolar — atau sekitar Rp 328 triliun. Gelombang dampaknya langsung terasa di pasar energi Eropa dan Asia.

Dua rudal Iran bahkan berhasil menembus sistem pertahanan berlapis Israel dan menghantam kota Dimona dan Arad — tepat di wilayah yang selama ini diyakini menjadi lokasi program senjata nuklir Israel. Sebuah peringatan yang tidak bisa diabaikan.


Pekan Keempat: Negosiasi Semu dan Kebuntuan yang Sesungguhnya

Di sinilah fase “paling menipu” itu mencapai puncaknya.

Trump tiba-tiba mengklaim bahwa AS dan Iran sedang dalam pembicaraan diplomatik. Tehran langsung membantah. Trump bersikeras Iran “memohon” gencatan senjata. Pejabat Iran menyebut klaim itu omong kosong. Washington mengirimkan proposal 15 poin kepada Tehran melalui Pakistan sebagai perantara. Iran merespons dengan satu kalimat: “maximalist dan tidak masuk akal.”

Di sisi militer, Trump mengancam akan “meluluhlantakkan” pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam. Deadline berlalu. Diperpanjang 5 hari. Diperpanjang lagi 10 hari. Selat tetap tertutup.

Sementara itu, di darat:

  • AS mengirimkan ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah
  • Israel membom pabrik baja dan reaktor nuklir Iran
  • Hizbullah mengklaim menghantam lusinan tank Israel setiap harinya di Lebanon
  • PBB memperingatkan Lebanon menghadapi risiko “bencana kemanusiaan” dengan lebih dari 1,2 juta warga mengungsi

Korban dan Harga yang Dibayar

Angka-angka ini perlu dibaca pelan-pelan, karena di balik setiap statistik ada nama dan keluarga:

Kategori Data
Korban jiwa di Iran Mendekati 2.000 orang
Korban jiwa di Lebanon Lebih dari 1.116 orang (121 di antaranya anak-anak)
Korban jiwa di Israel 20 orang akibat serangan Iran dan Hizbullah
Korban jiwa di kawasan Teluk 25 orang
Warga Iran yang mengungsi Lebih dari 3,2 juta jiwa
Warga Lebanon yang mengungsi Lebih dari 1,2 juta jiwa
Situs sipil rusak di Iran Hampir 10.000 lokasi

Serangan yang paling membekas dalam ingatan dunia adalah pengeboman sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran — menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar anak-anak. Seorang ibu yang kehilangan anaknya kemudian berdiri di podium PBB, menceritakan kondisi anaknya sebelum sekolah itu dihantam bom.


Dampak Ekonomi: Dari Sumur Minyak ke Meja Makan Kita

Perang ini bukan hanya soal rudal dan peta militer. Bagi ratusan juta orang yang tidak punya kaitan langsung dengan konflik ini, perang terasa paling nyata dalam satu hal: harga.

  • Harga minyak dunia kini di atas 112 dolar per barel — sekitar Rp 1,84 juta — tertinggi sejak 2022
  • Harga bensin di Amerika Serikat mencapai 3,90 dolar per galon — naik hampir Rp 16.400 dibanding sebelum perang
  • Pasar saham AS jatuh: S&P 500 dan NASDAQ mencatat kerugian besar
  • Ruang udara di kawasan Teluk — rumah bagi beberapa bandara tersibuk di dunia — terganggu parah
  • Kapal-kapal kargo memilih rute memutar lewat Tanjung Harapan, menambah waktu pengiriman berminggu-minggu

Bagi Indonesia, sebagai negara yang masih mengimpor produk minyak olahan, efeknya berjenjang: harga BBM naik, ongkos logistik membengkak, harga kebutuhan pokok ikut terdongkrak.


Yang Paling Berbahaya: Tidak Ada yang Punya Peta Jalan Keluar

Itulah inti dari “fase paling menipu” ini.

Tidak ada pihak yang secara jujur memetakan seperti apa kondisi “selesai” dalam perang ini. Trump berbicara tentang kemenangan tapi terus memundurkan ultimatum. Iran berbicara tentang hak dan ganti rugi tapi tetap menyerang. Israel berbicara tentang tidak ada batas waktu operasi, dengan salah satu menterinya bahkan menyebut perbatasan baru Israel “harus ada di Sungai Litani” — yang berarti mencaplok sekitar 20 persen wilayah Lebanon.

Qatar sudah mengeluarkan seruan: “penghancuran total musuh bukan sebuah pilihan.” Tapi tidak ada yang tampaknya benar-benar mendengar.

Yang jelas: selama Selat Hormuz tetap tertutup, selama bom masih berjatuhan, dan selama meja perundingan hanya menjadi panggung sandiwara — tidak ada stabilitas yang akan kembali ke pasar energi dunia, dan tidak ada harga yang akan berhenti naik.

Perang ini menipu karena ia tampak seperti konflik dua negara, padahal dampaknya sudah lama menjadi beban seluruh dunia.


Disintesis dan ditulis ulang dalam Bahasa Indonesia dari berbagai sumber: Al Jazeera, CNN, CFR Global Conflict Tracker, Arab Center DC, dan Wikipedia. Data per 30 Maret 2026. Konversi kurs: 1 USD ≈ Rp 16.400.

Artikel Terkait

Promosi Perusahaan

Informasi perusahaan dan penawaran-penawarannya:

Website

Kemungkinan perusahaan ini belum memiliki website resmi. Kunjungi https://codef.id/ untuk membuat website profesional 🙏.

Buat web di Codef.id bikin Anda bisa cepat untung! terus lho 👍🏿.
idhub sedang dalam pengembangan mohon maaf jika ada kendala 🙏 idhub sedang dalam pengembangan mohon maaf jika ada kendala 🙏 idhub sedang dalam pengembangan mohon maaf jika ada kendala 🙏 idhub sedang dalam pengembangan mohon maaf jika ada kendala 🙏 idhub sedang dalam pengembangan mohon maaf jika ada kendala 🙏 idhub sedang dalam pengembangan mohon maaf jika ada kendala 🙏